The Smiling Campus LP3I

LP3I COLLEGE

 
Company Visit
Kampus Surabaya | Senin, 02 November 2009
 
  Salah satu agenda kegiatan Pendidikan LP3i BC Surabaya berupa Companya Visit program Public Relation & program Informatika Computer tanggal 29 Oktober 2009 di SS Media. Info selengkapnya : http://www.suarasurabaya.net/v06/ssmedia?id=c227666f864dfc9d79c5d52429025aad200970823
   
Baca Selengkapnya

News Photo

 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
Budaya Kebersamaan di LP3I
Marketing PR | Selasa, 13 Juli 2010
 

Budaya dan Manusia Manusia sebagai mahluk social membutuhkan entitas kehidupan lainnya, tidak akan bermakna sebuah nilai tanpa di pacu oleh mahluk lainnya dimana komunitas itu berada dan tentu komunitas dalam kehidupan manusia itulah lahirlah budaya, yang lebih spesifik lagi disebut budaya kebersamaan. Budaya makan enggak makan asal kumpul, gemeinschaft (paguyuban) atau mezzo-structures suatu bentuk interaksi sosial kekeluargaan, solidaritas sosial, perasaan menjadi satu kesatuan dalam rasa sepenanggungan, tenggang rasa atau tepa selira dengan nilai-nilai moral berupa penghormatan sesama manusia, tanggung¬ jawab, kejujuran, kerukunan, dan kesetiakawanan. Disadari ataupun tidak disadari akhir-akhir ini telah menjauh dari kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat Indonesia. Kebersamaan yang indah yang mulai terkikis oleh budaya-budaya indivi¬dualis. Pandangan hidup yang mengagung-agungkan kebebasan personal yang mendorong manusia untuk mendahulukan kepen¬tingan dan kebebasan pribadi tanpa memikirkan hak-hak orang lain. Sikap ini acapkali menjerumuskan manusia ke dalam perbenturan dengan pihak lain dalam hidup sosial. Penyanjung kebebasan seakan-akan tinggal di luar entitas sosial dan seolah-olah mereka tidak berdampingan dengan sesama. Keberadaan budaya kebersamaan sekarang lebih menjadi nilai-nilai yang semu dan artifisial, Menjauh dari titik nyatanya dan hanya sekedar simbol dipermukaan. Pudarnya nilai-nilai luhur telah menjadikan masya¬rakat Indonesia menjadi ‘kasar’ dan tanpa perasaan, dan semakin menguat manakala hukum tidak lagi mempunyai kewi¬bawaan untuk mengatur Kita. Jika terus sperti ini, apakah kita masih layak disebut sebagai suatu bangsa? Bangsa pada dasarnya merupakan suatu bentuk solidaritas kolektif; yang mana lebih menonjolkan elemen kebersamaan dan tidak menyoroti masalah ketidaksamaan ataupun eksploitasi. dalam konteks definisi kelompok social, Ferdinand Tonnies mengemukakan bahwa kelompok sosial adalah suatu bentuk kehidupan bersama, dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Batasan ini disebut Tonnies sebagai paguyuban atau gemeinschaft. Tonnies menyebutkan beberapa ciri peguyuban, yaitu; (1)intimate, hubungan menyeluruh yang mesra antar individu dalam kelompok masyarakat. (2)Private, hubungan yang bersifat pribadi antar sesama anggota masyarakat, karena faktor pertalian darah. Dan yang ketiga adalah exclusive, yakni hubungan yang tertutup antara segenap anggota masyarakat sebagai suatu paguyuban. Oleh karena itu di dalam gemeinschaft atau paguyuban terdapat suatu common will (kemauan bersama), dan juga ada suatu understanding (pengertian bersama), serta kaidah yang timbul dengan sendiri dari kelompok tersebut. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan (yang harmonis) antar anggota kelompok. Asas persaudaraan ini dijaga oleh institusi negara yang memiliki kemampuan menjangkau segenap anggota dari suatu bangsa. Fungsi lain dari suatu bangsa adalah merusmuskan dan menegakkan aturan permainan, entah dalam kehidupan ekonomi, dan politik, maupun kemasyarakatan yang disepakati oleh anggotanya. Bangsa dibentuk oleh unsur kebudayaan, sejarah dan warisan tradisi lain yang pernah ada sebelumnya. Dikatakan sebagai suatu solidaritas kolektif karena memiliki lambang-lambang budaya sendiri seperti bahasa yang digunakan dalam wilayah teritorial tertentu, yang sebenarnya mencerminkan suatu kesatuaan. Oleh karena itu, konsep bangsa menonjolkan persaudaraan dan atau kebersamaan. Yang mana kebersamaan ini akan membentuk suatu komunitas politik, bangsa dan negara yang senantiasa mengalami proses rekonstruksi terus menerus sepanjang sejarah perkembangannya. Kebersamaan di LP3I Sebuah institusi pendidikan yang kini telah menyebar hampid di setiap penjuru nusantara, LP3I berkembang tumbuh bagai pemuda yang melewati usia remaja dan menuju usia dewasa. 21 tahun LP3I berdiri memiliki karakteristik khusus yang tentu mungkin tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan serupa. Apa yang menjadi ke unikan di LP3I, berikut penulis ingin memaparkan sedikit gambaran soal budaya di LP3I. 1. Walaupun bukan lembaga agama LP3I sangat konsen terhadap kegiatan keagamaan seperti budaya shalat berjamaah serta budaya I’tikaf di mesjid yang dilakukan bukan hanya pada saat bulan ramadhan saja. 2. Budaya saling mendo’akan. Dimana setiap karyawan di anjurkan untuk mendoakan karyawan lainnya, baik atasan maupun sejawat lainnya. 3. Saling mengingatkan jika ada yang mengalami kehilafan 4. Saling menolong jika ada rekan/kerabat rekan yang sedang mengalami musibah 5. Setiap rapat dimulai dengan membaca doa’a (basmalah, solawat) dan Kultum (kuliah tujuh menit) serta program jum'at berseri yaitu yasinan rutin setiap hari jum'at yang diikuti seluruh karyawan. 6. Setiap karyawan di perbolehkan tidak masuk sampai bahkan sampai 4 bulan lamanya jika dia pergi untuk kegiatan keagamaan tanpa mengurangi haknya sebagai karyawan 7. Dan beberapa budaya lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan Fenomena ini sangat menarik, ketika masyarakat Indonesia dan beberapa corporate sudah masuk pada wilayah kebutuhan masyarakat cosmopolitan dimana telah terjadi pergeseran nilai budaya bangsa dan agama akibat pengaruh asing yang memporak-porandakan karakteristik masyarakat kita.mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh LP3I menjadi asbab kemaslahatan umat. Amien (Ac)
   
 
Kembalinya Mahasiswa LP3I dari Malaysia.
Marketing PR | Senin, 12 Juli 2010
 

Tibanya peserta Sit-in Mahasiswa LP3I dari Malaysia yang lebih kurang selama 2 minggu di negeri Jiran tersebut tak heran membuat beberapa peserta yang tiba di jakarta tepatnya tanggal 9 juli ini terlihat sumringah. seperti terlihat pada wajah salah satu peserta yang merupakan perwakilan Manajemen LP3I Pusat, Zelly Andreti, mengisahkan selama kunjungan di Unisel-Malaysia serta beberapa program kegiatan yang di ikuti oleh mahasiswa LP3I yang mengikuti student exchange tersebut, termasuk memperlihatkan dokumentasi kegiatan-kegiatan mahasiswa LP3I selama berada di Malaysia. Ketua penyelenggara program sit-in Malaysia Liswandi, mengatakan "Peserta Sit ini Mengikuti program perkuliahan singkat di UNISEL (Universitas Selangor-Malaysia),Pentas seni kolaborasi antar mahasiswa LP3I dan Mahasiswa Unisel, Kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di Malaysia serta beberapa kegiatan lainnya. pada kegiatan tersebut merupakan ajang pendidikan, pelatihan, bagi Mahasiswa LP3I". Peserta yang berangkat berjumlah 28 orang diantaranya 23 orang adalah utusan mahasiswa dari berbagai cabang LP3I se-Indonesia dan 5 orang manajemen LP3I yang menjadi pendamping termasuk beberapa karyawan LP3I yang dinobatkan sebagai karyawan terbaik. Duta mahasiswa LP3I yang berangkat ke Malaysia pada program sit-in ini , mereka berada di negeri Jiran mulai tanggal 27 Juni 2010 s/d 08 Juli 2010. Para Mahasiswa pilihan dari perwakilan cabang LP3I se-Indonesia tersebut telah melakukan beberapa kegiatan dengan program yang sudah di sesuaikan dengan pihak UNISEL-Malaysia. Program Student Exchange yang dilaksanakan oleh LP3I dengan Unisel-Malaysia merupakan program yang ke tiga, dimana setiap Tahunnya LP3I mengirimkan mahasiswa serta menerima rombongan dari Malaysia. tidak hanya dengan malaysia, program ini akan berlanjut ke negeri lain seperti ke negeri Sakura yang direncanakan dimulai tahun ini LP3I juga akan mengirimkan mahasiswanya(Ac)
   
 
Monitor Bisnis Buku di Sekolah
Marketing PR | Senin, 12 Juli 2010
 

JAKARTA-LP3I-News-Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh, menegaskan akan memonitor sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama negeri (SMP) yang mewajibkan siswanya membeli buku pengayaan. Seharusnya, para siswa tak lagi dipungut biaya apa pun. ''Jangan lagi bebankan orangtua. Kasihan,'' ujar Mendiknas (12/7). Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini, menjelaskan, siswa SD dan SMP masih dalam wajib belajar sembilan tahun. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban memenuhi pelayanan pendidikan yang baik dengan memberikan subsidi bantuan operasional sekolah (BOS). Salah satu kegunaan dana BOS itu adalah untuk memberikan buku teks wajib secara gratis kepada siswa. Dengan demikian, sekolah tidak diperbolehkan mewajibkan siswanya membeli buku pengayaan dari penerbit. ''Kami akan monitor, kalau begini terus tidak akan pernah selesai,'' jelas Mendiknas. Saryati, orangtua murid di SDN 05 Pesanggrahan, Jakarta Selatan, mengungkapkan pihak sekolah memang tidak mewajibkan membeli buku pengayaan. Namun demikian, siswa dapat foto copy buku pengayaan dari guru. Banyaknya pungutan liar di sekolah menurut Febri Hendri dari Indonesian Corruption Watch (ICW) karena tidak terbukanya sistem pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah. Baik pihak orang tua murid, komite sekolah, dan guru sekalipun banyak, yang tidak mengetahui pengelolaan APBS tersebut. ''Yang tahu pengelolaan APBS itu hanya tiga pihak, Kepala sekolah, bendahara sekolah dan Tuhan,'' ungkap Febri. Sementara itu, Pengamat Pendidikan, Darmaningtyas mengatakan, pemerintah masih belum bertanggungjawab penuh terhadap penyelenggaraan pendidikan, terutama terkait biaya. Pasalnya dana BOS masih sangat minim. ''Dana bos hanya mampu memenuhi 30 persen dari kebutuhan minimal di setiap sekolah sehingga sekolah mempunyai celah melakukan pungutan,'' jelasnya. Sumber : Republika
   
 
Pengamat: "Sex Education" Harus Dimasukkan Kurikulum
Marketing PR | Selasa, 06 Juli 2010
 

Semarang LP3I News- Pengamat anak, Evarisan menilai "sex education" (pendidikan seks) harus dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, untuk membendung maraknya tindak asusila yang dilakukan anak dan remaja. "Pengetahuan tentang seks selama ini masih dianggap tabu di kalangan masyarakat," kata Evarisan yang juga Korodinator Legal Resources Centre untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) itu di Semarang, Jumat. Akibatnya, kata dia, anak-anak maupun remaja mencari informasi seks secara sembarangan melalui internet maupun film porno, dan hal itu justru yang sangat disayangkan. "Selama ini, pendidikan seks selalu diartikan jorok dan ketika ada anak yang bertanya hanya diberikan pelarangan tanpa menjelaskan secara konkrit yang dimaksudkan," katanya. Menurut dia, penjelasan yang tidak tuntas semacam itu jsutru membuat anak-anak menjadi penasaran dan kemudian memilih mencarinya sendiri tanpa bimbingan dari orang tuanya. Ia mengaku sangat prihatin dengan data-data terkait aktivitas seks anak-anak dan remaja, seperti menyebutkan berapa persen siswa SMP pernah melakukan aborsi, dan sebagainya. "Itu bukti nyata bahwa negara belum mampu memberikan perlindungan yang benar terhadap anak-anak, apalagi selama ini antisipasinya hanya dilakukan dengan regulasi," katanya. Selama ini, kata dia, antisipasi berupa regulasi, seperti UU Nomor 23/2003 tentang Perlindungan Anak dan UU Nomor 44/2008 tentang Pornografi juga belum benar-benar teruji dan terealisasi. Oleh karena itu, Evarisan menilai, pendidikan seks sudah saatnya dimasukkan dalam kurikulum pendidikan, diiringi dengan penyelenggaraan pendidikan yang diarahkan untuk pembentukan karakter. Senada dengan itu, Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Psikologi Kesehatan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Dr. Margaretha S. Setija Utami juga mengatakan pendidikan seks perlu diberikan. Namun, kata dia, penekanan pendidikan seks di Indonesia dibatasi oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, sehingga pendidikan seks yang diberikan negara tersebut berbeda dengan negara lain. Ia mengatakan masyarakat Indonesia masih sangat kokoh memegang dan menganut norma agama yang menyatakan dengan tegas bahwa berhubungan seks di luar nikah adalah haram dan tidak boleh dilakukan. "Karena itu, penekanan yang diberikan dalam pendidikan seks di Indonesia adalah upaya mencegah agar mere (anak-anak dan remaja, red.) tidak sampai melakukan hubungan seksual sebelum menikah," katanya. Akan tetapi, kata Setija, pendidikan seks yang diberikan di Barat pasti akan menekankan pencegahan agar remaja tidak melakukan hubungan seks yang tidak aman, misalnya dengan memakai kontrasepsi Sumber : Antara
   
 
12 Persen Warga Indonesia Kecerdasan di Atas Rata-rata
Marketing PR | Selasa, 06 Juli 2010
 

JAKARTA--Sekitar 12 persen atau 30 juta penduduk Indonesia memiliki kecerdasannya di atas rata-rata. Angka ini sangat tinggi, jika dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Australia. Hal ini disampaikan pakar fisika Indonesia, Yohanes Surya, akhir pekan lalu. Sebagai negara berpenduduk terbesar ke-4 di dunia yang memiliki 27.5 juta siswa SD, lanjut dia, sebanyak 3,5 juta siswa SD kecerdasannya juga di atas rata-rata. Buktinya, dalam ajang kompetisi internasional, seperti Asia Physics Olympiad (AphO) dan International Physics Olympiade (IPh0) tim Indonesia sudah mengumpulkan 90 medali dan penghargaan sejak kompetisi dimulai 1993. ''Bahkan Indonesia juara dunia pada pelaksanaan IPh0 XXXVIII,'' jelas Yohanes. Sanny Djohan dari Kuark Indonesia mengatakan, kecintaan anak Indonesia, terutama yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, pada dunia sains harus dipupuk sejak dini. Komik Sains kuark, lanjut dia, bisa menjadi pendamping belajar. Komik ini dibuat berdasarkan panduan kompetisi dasar Kementerian Pendikkan Nasional. Diharapkan dengan olimpiade dan melalui komik sains anak-anak Indonesia mampu belajar secara mandiri dengan sedikit pendampingan orangtua. ''Sehingga akan sangat memudahkan anak-anak ini memahami konsep IPA secara utuh dan terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari,'' tegas Sanny. Sumber : virus cerdas.com
   
 
USAID Hibahkan Rp 1,38 Juta Dolar AS untuk Pengajar di Indonesia
Marketing PR | Selasa, 06 Juli 2010
 

JAKARTA--United States Agency for International Development (USAID) memberikan hibah kepada pemerintah Indonesia sebesar 1,38 juta USD. Hibah itu bertujuan untuk peningkatan di tingkat sekolah dasar atau Decentralized Basic Education (DBE 2) sampai Pembelajaran Aktif untuk Perguruan Tinggi atau Active Learning for Higher Education (ALFHE). ''DBE 2-USAID dan ALFHE bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Indonesia, melalui pelatihan guru dan peningkatan lingkungan belajar di sekolah,” ujar Chief of Party DBE 2 Michael Calvano usai acara pembukaan Seminar Nasional Pembelajaran Aktif untuk Perguruan Tinggi atau Active Learning for Higher Education, di kantor Kementerian Pendidikan Nasional, Senin (5/7). Melalui program pelatihan untuk dosen dan guru itu, USAID telah mengembangkan sistem pemantauan dan evaluasi untuk mengumpulkan dan melaporkan data dengan berbagai indikator untuk menelusuri masukan, kegiatan, produk, dan pencapaian proyek. Pada tahun 2009, dari 7 provinsi dan dari dua peserta proyek, sekolah yang mengikuti pelatihan ada 1.075 sekolah dan kepala sekolah, 14.484 guru, dan 231.123 siswa. Evaluasi USAID itu meliputi peningkatan belajar siswa atau mahasiswa, kinerja guru, kinerja kepala sekolah, lingkungan belajar, dan persepsi atau kepuasan pemangku kepentingan. “Dari waktu ke waktu evaluasi ini tidak hanya menggambarkan kemajuan sekolah binaan, tapi juga memberikan gambaran tentang pendidikan di Indonesia secara keseluruhan,” ucap Calvano. Dari hasil evaluasi USAID, setelah adanya pelatihan guru di sekolah dasar, persentase semua siswa kelas 3 dan 6 yang mencapai kompetisi bidang studi dinilai mencapai atau melebihi standar minimal bidang studi Bahasa Indonesia dan IPA di akhir tahun ajaran. Peningkatan nilai untuk mata pelajaran IPA baik kelas 3 dan 6 SD mencapai 86 persen. Peningkatan pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 3 SD mencapai 95 persen, sementara untuk kelas 6 mencapai 79 persen. “Namun, hasil evaluasi hasil belajar Matematika rendah, siswa yang nilainya melebihi kompetensi jauh sekali persentasenya, di bawah 8 persen,” ucap Calvano. Untuk hasil kinerja guru, USAID menilai persentase guru di bawah binaan USAID yang memenuhi standar kompetensi dinilai masih tetap tinggi, sebanyak 84 persen guru sudah memenuhi kompetensi. Pada 2008/2009, sebanyak 67 guru di kelas binaan USAID sudah mulai menunjukkan salinan rencana pembelajaran mereka dibanding guru yang tidak termasuk binaan yang hanya 7 persen. “Karena mereka juga sudah menerapkan metode belajar interaktif,” cetus Calvano. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso mengatakan, pembelajaran aktif atau sering disebut student center learning adalah metode untuk meningkatkan proses pembelajaran. "Bagaimana membuat proses pembelajaran itu lebih berpusat kepada mahasiswa yang aktif," jelasnya. Sumber : Republika
   
 
PTIS Akan Didorong Agar Sejajar dengan PTN
Marketing PR | Senin, 05 Juli 2010
 

Ketua Dewan Penasehat Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BK PTIS) Jusuf Kalla mengatakan, mutu perguruan tinggi Islam swasta dinilai belum mampu bersaing dengan perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi non islam. Menurut Jusuf Kalla, universitas negeri seperti Universitas Indonesia (UI) dan Gajah Mada (UGM) lebih maju, baik dalam kemahasiswaan dan bidang studinya. Jusuf Kalla meminta perguruan tinggi Islam swasta jangan hanya menjual label keislamian saja. “Batas perbedaan keislamiannya sudah sangat tipis. Di UI dan UGM sudah banyak yang berjlbab dan pengajian tidak kalah dengan kampus non islam,” jelas Jusuf Kalla pekan lalu. Jusuf Kalla menganjurkan perguruan tinggi islam swasta jika ingin bersaing secara universal dengan kampus lain, maka statusnya harus baik dan berbiaya murah. Selain itu harus ada keunikan sebagai nilai tambah. Ketua BK PTIS masa bakti 2009-2014, Edy Suandi Hamid yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta sependapat dengan Jusuf Kalla. Menurutnya, mutu perguruan tinggi islam swasta masih sangat rendah, padahal posisi universitas Islam cukup strategis dalam mengembangkan mutu pendidikan di Indonesia. Edy mengungkapkan berdasarkan survei Kemendiknas mengenai produktivitas pembuatan karya ilmiah seindonesia, perguruan tinggi Islam swasta yang produktif membuat karya ilmiah hanya mencapai 18 kampus. Dua masuk 20 besar perguruan tinggi seindonesia yakni Universitas Islam Indonesia (UII) pada posisi 12 dan Universitas Muhammadiyah Malang diposisi 16. Sementara itu, dari 57 perguruan tinggi Indonesia yang masuk ke 8.000 universitas terbaik sedunia hanya ada delapan perguruan tinggi islam swasta yang masuk didalamnya. “Ini termasuk keprihatinan, sehingga yang mau masuk universitas Islam berkurang,” ungkap Edy Oleh karena itu, untuk menghadapi persaingan dan peningkatan mutu, maka pihaknya akan melakukan pembinaan kepada kampus yang masih terbelakang mutunya. Subsidi silang dari kampus yang tinggi mutunya juga akan dilakukan. “Kami akan gelar workshop dan pembinaan secara merata,” tutupnya.
   
 

<< Pertama | < Sebelumnya | 1 2 3 ... 4 | Selanjutnya > | Terakhir >>

 
 
 
 
 
 
 
The Smiling Campus LP3I

copyright@2009 Direktorat Riset dan Teknologi Informasi LP3I

HOME LP3I  ●  IT-SUPPORT LP3I  ●  LP3I VOICES  ● RSS